A. Biografi Howard Gardner
Howard Gardner lahir pada tanggal 11 Juli 1943 di Scranton, Pennsylvania, Amerika Serikat. Orang tuanya adalah pengungsi Nazi dari Jerman. Mereka melarikan diri dari Nurnberg, Jerman pada tahun 1938 bersama anak mereka Eric yang baru berumur tiga tahun. Eric kemudian terbunuh dalam sebuah kecelakaan menjelang kelahiran Gardner. Kedua peristiwa ini tak pernah diceritakan orangtuanya selama masa kanak-kanaknya. Gardner sendirilah yang kemudian menemukan bahwa mereka adalah keturunan Yahudi, yang dikejar-kejar Nazi.
Ketika sebagai anak, ia sangat gandrung belajar dan bermain piano. Musik merupakan hal yang paling penting dalam dihidupnya. Orang tuanya ingin mengirim Gardner untuk belajar di Philips Academy, Massachusetts tapi Gardner menolaknya. Sebaliknya, ia pergi ke sekolah Wyoming Seminary di Kingston, Pennsylvania. Atas dukungan gurunya disana, dia pun sukses menyelesaikan studinya. Dari situ, ia pergi ke Harvard University untuk belajar sejarah sebagai persiapan untuk karier pengacara. Disana, ia bertemu dengan Eric Erikson sebagai tutornya. Disini pikirannya terbuka setelah belajar dibawah bimbingan psikoanalis Eric Erikson, sosiolog David Riesman dan psikologi kognisi Jerome Bruner. Ketiga orang ini telah membangun pemahamannya yang luas tentang manusia, sekaligus membantunya untuk membuat penelitian khusus tentang hukum alam kemanusiaan. Gardner kemudian belajar psikologi dan ilmu pengetahuan sosial hingga memperoleh gelar A.B pada tahun 1965 dengan summa cumlaude. Dari sini ia bekerja untuk beberapa saat bersama Jerome Bruner dalam MACOS Project (Man: A course of study). Selama waktu ini, ia membaca karya-karya dari Claude Levi-Strauss dan Jean Piaget. Tahun 1966, ia melanjutkan program doktornya di Harvard University hingga tamat pada tahun 1971. Selama di Harvard University, ia dilatih menjadi seorang psikolog perkembangan dan kemudian juga menjadi seorang neurolog. Ia adalah profesor yang khusus mendalami kognisi dan pendidikan di departemen Pendidikan Harvard University, profesor psikologi di Harvard University, profesor Neurologi pada sekolah kedokteran University Boston, dan ketua tim proyek Zero.
Gardner sangat terkenal dalam lingkungan dunia pendidikan karena teorinya tentang multiple intelligences . Selama dua puluh tahun terakhir, ia bersama dengan rekan-rekannya di proyek Zero telah melakukan percobaan-percobaan dengan menggunakan alat tes, pelatihan pendidikan, dan penggunaan multiple intelligences untuk mencapai rencana-rencana (cita-cita) pribadi. Beberapa tahun terakhir, ia mengadakan dua penelitian mengenai kognisi dan pemakaian simbol-simbol. Yang pertama, terhadap anak-anak normal dan anak-anak berbakat dan yang kedua terhadap orang dewasa yang mengalami gegar otak. Tugasnya adalah menyatukan kedua hasil penelitian ini. Tahun 1983, ia mengembangkan dan memperkenalkan teori multiple intelligences dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind. Tahun 1986, ia mulai mengajar di pasca sarjana Harvard University, sambil terus menjalankan program jangka panjang Project Zero mengenai kognisi manusia dengan fokus utamanya bidang seni.
Ia menikah dengan Ellen Winner, seorang ahli psikologi perkembangan. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai empat orang anak, antara lain: Kerith (1969), Jay (1971), Andrew (1976), dan Benyamin (1985). Selain mencurahkan seluruh perhatian pada keluarga dan kerjanya, ia juga senang traveling dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bidang seni. Mata kuliah yang diberikan di universitas, antara lain mengenai intelegensi, kreativitas, kepemimpinan, tanggung jawab profesional, kegiatan ilmiah antar disiplin ilmu, manajemen kerja yang baik dan seni.
B. Teori Multiple Intelligences
Teori multiple intelligence ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University, Amerika Serikat. Ia mulai menuliskan gagasannya tentang kecerdasan ganda dalam bukunya Frames of Minds pada tahun 1983.
Secara ontologi, objek dari teori multiple intelligences adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tiap manusia. Gardner menemukan terdapat tujuh kecerdasan dimiliki tiap manusia diantaranya kecerdasan linguistik, kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visuak, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan antarpersonal, dan kecerdasan intrapersonal.
1. Kecerdasan linguistik, adalah kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu mengungkapkannya.
2. Kecerdasan matematis-logis, adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, serta pola pemikiranlogis dan ilmiah.
3. Kecerdasan visual, adalah kemampuan melihat suatu objek dengan detail.
4. Kecerdasan musikal, adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan musik, irama, nada dan suara.
5. Kecerdasan kinestetik, adalah kemampuan menggabungkan gerakan fisik dan pikiran sehingga menghasilkan gerakan yang sempurna.
6. Kecerdasan antarpersonal, adalah kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain.
7. Kecerdasan intrapersonal, adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri.
Dalam penelitian selanjutnya, Gardner dan teman-teman menambah lagi dua kecerdasan lain yaitu kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksistensial. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi sebuah contoh sebagai anggota kelompok spesies, mengenai spesies yang berdekatan, membedakan antar anggota spesies, dan memetakan hubungan. Kecerdasan ini muncul juga pada manusia purba yang mampu membedakan tumbuhan beracun dan tidak, kemampuan menghindari binatang tertentu yang dianggap berbahaya, mampu membedakan flora dan fauna, menduga akan adanya hujan dan badai. Kecerdasan eksistensial adalah kemampuan untuk menempatkan diri dalam lingkup kosmos yang terjauh dengan makna hidup, makna kematian, nasib dunia jasmani dan jiwa, makna pengalaman mendalam tentang cinta dan seni. Kecerdasan ini ditunjukkan manusia purba dalam kegitan ritual keagamaan seperti upacara penguburan, berburu, sebelum tanam dan setelah panen.
Penambahan dua kecerdasan terakhir ini menimbulkan polemik, namun Gardner punya alasan tersendiri mengapa kedua kecerdasan ini baru ditambahkan kemudian. Boleh dikatakan bahwa ketujuh kecerdasan yang pertama adalah kecerdasan-kecerdasan yang telah memenuhi kriteria langsung, sedangkan kedua kecerdasan terakhir baru memenuhi syarat setelah penelitian lebih lanjut pada para pasien yang mengalami kerusakan otak.
Teori ini didukung oleh teori nativisme yang mengajarkan bawa anak lahir sudah membawa pembawaan sendiri-sendiri. Dalam teori tersebut terdapat sembilan kecerdasan yang dimiliki manusia sejak mereka lahir. Kecerdasan itu akan muncul jika diberikan stimulus yang tepat, sebaliknya kecerdasan itu akan terkubur jika diberikan stimulus yang salah.
Secara epistemologi, Howard Gardner menemukan teori multiple intelligences dengan melakukan pengamatan terhadap kecerdasan seseorang dalam sebuah nilai dan tes yang terstandar, dengan indikator:
1. Kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.
2. Kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk diselesaikan.
3. Kemampuan untuk menghasilkan sesuatu (produk) atau menawarkan sebuah pelayanan yang dihasilkan dari kebudayaannya.
Secara aksiologi, teori multiple intelligences digunakan oleh orang tua dan pendidik sebagai dasar untuk memberi stimulus kepada anak untuk memudahkan anak dalam mengeksplorasi kecerdasan dan bakat yang telah dimiliki. Jika salah dalam pemberian stimulus, maka kecerdasan tersebut bisa hilang atau terkubur oleh stimulus-stimulus yang lain dan bisa membuat anak terus-terusan beradaptasi dengan hal-hal baru yang bukan kecerdasan mereka. Gardner mengemukakan tiga faktor yang mempengaruhi kecerdasan ganda, diantaranya yaitu:
1. Hereditas, merupakan faktor bawaan dari keturunan. Didukung oleh aliran nativisme yang mengajarkan bawa anak lahir sudah membawa pembawaan sendiri-sendiri. Berarti sejak manusia lahir telah membawa kecerdasan tersendiri. Sehingga orang tua dan pendidik hanya memberi stimulus untuk memunculkan kecerdasan tersebut. Akan tetapi, jika stimulus yang diberikan tidak sesuai maka, kecerdasan tersebut justru akan tenggelam.
2. Lingkungan, merupakan faktor yang berpengaruh besar untuk menghasilkan kemampuan fungsionalitas organ kecerdasan pada anak. Didukung oleh aliran konstruktivisme yang menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk individual yang dikonstruksikan melalui sebuah realitas sosial. Berarti lingkungan yang benar dapat memunculkan kecerdasan manusia.
3. Nutrisi, asupan nutrisi merupakan salah satu faktor yang mendukung kecerdasan anak. Didukung oleh aliran empirisme yang mengajarkan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia.
***

Komentar
Posting Komentar